Portal Berita Indonesia

Bisnis Rumput Laut Menurun Petani Merugi Akibat Anomali Cuaca

· · 0 comments

Indonesia merupakan negara penghasil rumput laut yang cukup bagus, akan tetapi belakangan ini bisnis usaha rumput laut menurun, sejumlah petani di Desa Padike, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, Madura, banyak yang merugi. Pasalnya, rumput laut yang telah mereka budidayakan tidak bisa tumbuh dengan sempurna

Hal ini terjadi karena sedang terjadi anomali cuaca. Perubahan cuaca yang mendadak sehingga air laut sangat panas membuat pertumbuhan rumput laut tidak bagus. Untuk menghindari kerugian yang besar petani melakukan panen dini.

Bila cuaca normal, bibit yang dibudidaya sebanyak 2 kwintal bisa menghasilkan 4 kwintal sampai 5 kwintal. Tapi, untuk kali ini diperkirakan tidak sampai angka tersebut.

"Dengan cuaca yang kurang bersahabat seperti sekarang, kami mengalami kerugian. Karena rumput laut yang dibudidaya tumbuhnya tidak sempurna," terang salah seorang petani rumput laut, Sulaiman, Senin (2/6/2014).

Ia menjelaskan, anomali cuaca sudah berlangsung sejak dua pekan terakhir. Dimana kondisi air laut sangat panas. Akibatnya, berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut.
"Supaya ruginya tidak terlalu banyak, maka kami memilih memanen muda. Rumput laut dipanen setiap minggu. Padahal, seharusnya dipanen ketika usia 30 hari," paparnya.

Menurutnya, untuk modal budidaya satu keramba membutuhkan biaya sebesar Rp455 ribu. Dalam satu keramba berisi 70 tali rumput laut.

Ia menambahkan, modal yang dipakai dalam budidaya rumput laut sebesar Rp455 ribu untuk satu keramba yang berisi 70 tali rumput laut. Dengan modal senilai itu, petani hanya mendapat Rp360 ribu untuk penjualan rumput laut.

"Harga jual rumput laut basah sendiri sebesar Rp 1.800 per kilogram. Kalau sudah begini, kami mengalami kerugian yang cukup besar. Kami minta uluran tangan dari pemkab setempat, supaya bisa bisa menutupi kerugian yang diderita," tandasnya.

0 comments:

Post a Comment